Senin, 03 Oktober 2011

MIZAN DIAN SEMESTA Jogjakarta: MENGAJARKAN ANAK MEMBACA DENGAN METODE READ ALOUD

MIZAN DIAN SEMESTA Jogjakarta: MENGAJARKAN ANAK MEMBACA DENGAN METODE READ ALOUD: MENGAJARKAN MEMBACA PADA BALITA DENGAN METODE “ READ ALOUD ” Setiap anak terlahir jenius, tapi serin...

Keutamaan Membaca dan Menulis dalam Quran.

Mari Meraih “Al-Akram”: Bagaimana Saya Menulis BukuWriting Toolbox (62)
Oleh Hernowo



“Kataal-akramyang berbentuk superlatif (bentuk kata yang menyatakan paling atau ter-) adalah satu-satunya ayat di dalam Al-Quran yang menyifati Tuhan dalam bentuk tersebut. Ini mengandung pengertian bahwaTuhan dapat menganugerahkan puncak dari segala yang terpuji bagi setiap hamba-Nya,terutama dalam kaitannya dengan perintah membaca”(lihat Muhammad Quraish Shihab,Tafsir Al-Mishbah, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2003, h. 399).

Setelah berusaha menemukan hikmah yang tercecer di mana-mana, saya pun berusaha meraih “al-akram” sebagaimana yang dijanjikan oleh Tuhan di ayat ketiga Surah Al-'Alaq. Saya menemukan hikmah dan meraih “al-akram” ya dengan kegiatan membaca dan menulis. Meraih “al-akram” ini sangat dimungkinkan setelah saya membaca tafsir Ustad Quraish atas ayat tersebut sebagaimana saya kutip di awal tulisan ini.

Rabu, 14 September 2011

KRITERIA BUKU UNTUK PAUD, KELOMPOK BERMAIN DAN TK


(Sumber : Kemendiknas)

Untuk melengkapi bahan ajar di PAUD/KB/TK maka Kemendiknas memberikan prasayrat sebagai berikut  karena tidak bisa setiap buku menjadi panduan untuk kurikulum anak usia dini: 

1.      Buku-buku panduan / acuan pembelajaran PAUD yang mengacu pada perkembangan anak.
2.      Buku-buku bacaan / referensi yang terkait dengan pendidikan dan perkembangan anak usia dini.
3.  Buku-buku cerita / dongeng anak yang memiliki tujuan untuk membentuk karakter anak sesuai kelompok usia sasaran.
4.   Buku-buku yang terkait dengan kesehatan, gizi pendidikan, pengasuhan, perawatan dan perlindungan anak.
5.      Buku-buku bacaan orang tua (Parenting) yang terkait dengan pengembangan anak usia dini.
6.      Buku-buku yang memiliki kandungan untuk pengenalan dan penanaman nilai-nilai kearifan local dan wawasan nasional bagi anak.
7.      Buku-buku yang terkait dengan pengembangan karakter anak seperti pembentukan budi pekerti, toleransi, kedisiplinan, percayadiri, kerjasama dan kemandirian.
8.      Buku-buku yang terkait pengenalan nilai-nilai agama dan moral sesuai agama yang dianutnya.
9. Buku-buku / bahan ajar yang terkait dengan pengenalan keaksaraan anak (pra-membaca, pra-menulis dan pra-berhitung) yang bukan berupa lembar kerja (worksheet).
10.  Buku-buku referensi pengelolaan lembaga pendidikan (PAUD)
11.  Buku-buku lain yang mendukung penyelenggaraan PAUD yang baik dan benar.

Buku dan bahan ajar yang akan dibeli harus memenuhi criteria yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, dan orangtua. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :

a.      Kriteria Buku untuk Peserta Didik
1)      1.  Material dan Kemasan Buku
Ø  Menggunakan bahan yang aman bagi anak, misalnya tidak runcing dan tajam.
Ø  Kertas tebal dan tidak licin sehingga memudahkan anak untuk membuka-buka halaman buku, misalnya yang terbuat dari karton kaku yang dilipat dengan halaman yang berwarna-warni atau menggunakan bahan kain atau vinil lembut.
2)    
           2.  Isi Buku
Ø  Tema menarik dan sesuai dengan usia serta perkembangan anak, yaitu :
a)      Untuk anak usia bayi-2 tahun anak lebih tertarik dengan gambar dari suatu kegiatan dan pariwisata yang dikenal atau dekat dengan lingkungannya, misalnya mengenal suara dan bunyi binatang atau benda-benda gambar mengenakan baju tanpa kancing.
b)      Untuk anak usia 3-6 tahun anak lebih tertarik dengan gambar yang mengandung informasi, tindakan dan terperinci, misalnya kemandirian dalam berpakaian, mengenal anggota tubuh, persahabatan, keluarga, mengenal huruf dan angka.
Ø  Mengungkap hal-hal nyata yang berkaitan dengan pengalaman anak.
3)      
            3.  Karakter / Tokoh Cerita
Ø  Hindari buku yang mengungkapkan karakter/tokoh jahat dalam cerita yang mendorong anak-anak tertawa dan menikmati pesan dari tokoh utama yang tidak sesuai dengan batas-batas etika atau bebas hukuman/ aturan karena dapat membuat anak meniru perilaku tokoh tersebut.
Ø  Pahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapai terkait dengan isi buku/bahan ajar tersebut, seperti :
a)      Anak dapat memperluas pengetahuannya tentang dunia.
b)      Anak memiliki pemahaman diri yang lebih baik.
c)      Anak dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya.
d)      Anak dapat mengembangkan kemampuan berbahasanya terutama bahasa ibunya (bahasa Indonesia).
e)      Anak belajar bagaimana mengendalikan emosinya.
f)        Menghargai keindahan dan perbedaan yang ada (misalnya agama, budaya, dan ras).
g)      Anak belajar membuat keputusan-keputusan misalnya dalam perselisihan pendapat.
4)      
Il          4. Ilustrasi / Gambar
Ø  Tidak mengandung unsure SARA.
Ø  Mencakup banyak warna cerah dengan kualitas yang baik, berukuran cukup besar, tidak abstrak, tidak menyeramkan.
Ø  Ilustrasi tidak ambigu bagi anak, misalnya terlihat jelas perbedaan ilustrasi tokoh wanita atau pria.
Ø  Membuat banyak ilustrasi, minim tulisan dan disesuaikan dengan karakteristik anak. Misalnya untuk anak yang berusia kurang dari 2 tahun masih berupa buku bergambar dengan kata tunggal atau kalimat pendek yang sederhana.
Ø  Gambar maupun tulisan merupakan cerminan dari hal-hal yang nyata dapat dilihat serta dipahami dari lingkungan sekitar anak. Seiring dengan pertambahan usia, secara bertahap nak akan bisa mengembangkan kemampuannya dalam merespon ilustrasi yang lebih kompleks, terperinci, dan bersifat tidak nyata (seperti peri).

b.      Kriteria Buku untuk Tenaga Pendidik dan Orangtua
1)      1.  Kemasan Buku
Ø  Tidak terlalu tebal
Ø  Ukuran tidak terlalu besar
2)       
      2 .  Isi Buku
Tema buku sebaiknya merupakan tema yang dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan tenaga pendidik maupun orangtua dalam membantu mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Berikut beberapa tema umum buku untuk tenaga pendidik dan orangtua.
Ø  Pertumbuhan, perkembangan dan belajar pada anak usia dini.
Ø  Stimulasi dan lingkungan pembelajaran anak usia dini.
Ø  Kesehatan perlindungan atau kemampuan dan nutrisi untuk anak usia dini.
Ø  Berkomunikasi dengan anak usia dini.

 DAN SEMUA ITU ADA SEBAGIAN BESAR PADA BUKU 

HALO BALITA 










Terdiri dari 25 jilid buku cerita yang sesuai dengan kurikulum untuk PAUD dan 1 buah buku Panduan untuk orang tua. 

PESAN SEKARANG
GRATIS BUKU SEBESAR BANTAL
HELLO KIDS 
(HALO BALITA DALAM BAHASA INGGRIS)
HUBUNGI : CS : 0878 392 888 99, TWITTER : @mdsjogja, email : mdsjogja@gmail.com

Senin, 12 September 2011

MIZAN DIAN SEMESTA Jogjakarta: RAIHLAH MIMPIMU....

MIZAN DIAN SEMESTA Jogjakarta: RAIHLAH MIMPIMU....: Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari sangat menonjol dibanding dengan rekan-2nya, sehingga dia seringkali...

RAIHLAH MIMPIMU....


Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari
sangat menonjol dibanding dengan rekan-2nya, sehingga dia seringkali
menjadi juara di berbagai perlombaan yang diadakan. Dia berpikir,
dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti
dia ingin menjadi penari kelas dunia. Dia membayangkan dirinya menari
di Rusia, Cina, Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang
yang memberi tepuk tangan kepadanya.

Suatu hari, dikotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal
dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat, dan dari tangan
dinginnya telah banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis
muda ini ingin sekali menari dan menunjukkan kebolehannya di depan
sang pakar tersebut, bahkan jika mungkin memperoleh kesempatan
menjadi muridnya.

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda berhasil menjumpai
sang pakar di belakang panggung, seusai sebuah pagelaran tari. Si
gadis muda bertanya "Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas
dunia. Apakah anda punya waktu sejenak, untuk menilai saya menari ?
Saya ingin tahu pendapat anda tentang tarian saya". "Oke,
menarilah di depan saya selama 10 menit", jawab sang pakar.
Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu
berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja, tanpa mengucapkan
sepatah kata pun. Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang
pakar. Si gadis langsung berlari keluar. Pulang kerumah, dia
langsung menangis tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya
sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak
ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia ambil sepatu
tarinya, dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak saat itu, dia
bersumpah tidak pernah akan lagi menari.

Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan
tiga orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan untuk menghidupi
keluarganya, dia bekerja menjadi pelayan dari sebuah toko di sudut jalan.
Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu.
Nampak sang pakar berada di antara para menari muda di belakang
panggung. Sang pakar nampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih.
Si ibu muda dengan tiga anaknya juga datang ke pagelaran tari
tersebut. Seusai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya ke belakang
panggung, mencari sang pakar, dan memperkenalkan ketiga anaknya
kepada sang pakar. Sang pakar masih mengenali ibu muda ini, dan
kemudian mereka bercerita secara akrab.

Si ibu bertanya ", Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di
hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan anda
bertahun-tahun yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat
itu, sehingga anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja,
tanpa mengatakan sepatah katapun ?".
"Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah
melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu
akan menjadi penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu
tiba-2 berhenti dari dunia tari", jawab sang pakar.
Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. "Ini
tidak adil", seru si ibu muda. "Sikap anda telah mencuri semua
impian saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa anda
meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit.
Anda seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja.
Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko !".
Si pakar menjawab lagi dengan tenang "Tidak …. Tidak, saya
rasa saya telah berbuat dengan benar. ANDA TIDAK HARUS MINUM ANGGUR
SATU BAREL UNTUK MEMBUKTIKAN ANGGUR ITU ENAK. Demikian juga saya.
Saya tidak harus menonton anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda
bagus. Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka
sejenak saya tinggalkan anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan
berharap anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi anda
sudah pergi ketika saya keluar. Dan satu hal yang perlu anda camkan,
bahwa ANDA MESTINYA FOKUS PADA IMPIAN ANDA, BUKAN PADA UCAPAN ATAU
TINDAKAN SAYA.
"Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya
anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap
menari, mungkin hari ini anda sudah menjadi penari kelas dunia.
MUNGKIN ANDA SAKIT HATI PADA WAKTU ITU, TAPI SAKIT HATI ANDA AKAN
CEPAT HILANG BEGITU ANDA BERLATIH KEMBALI. TAPI SAKIT HATI KARENA
PENYESALAN ANDA HARI INI TIDAK AKAN PERNAH BISA HILANG SELAMA-LAMANYA

Senin, 15 Agustus 2011

TIPS MENGATASI ANAK YANG MENGAMUK DAN MARAH

Tingkah laku kemarahan anak Anda yang masih kecil tidak kunjung berhenti juga hari itu. Terdengar jeritan tingginya begitu memekakkan telinga. Dan banyak barang telah menjadi sasaran kemarahannya. Semua tindakan orangtua jadi salah. Secara naluriah, Anda ingin pergi meninggalkan situasi seperti ini bukan?? Namun ini bukanlah pilihan bijaksana. Pastilah ada solusi pemecahannya.
Hiruk-pikuk si kecil yang sedang berteriak dan menendang ini dapat membuat kita, para orangtua, frustasi. Bagaimana menghadapi situasi ini? Alih-alih melihat kemarahan sebagai suatu bencana, mari kita coba melihat kemarahan sebagai kesempatan untuk belajar.

Kenapa Emosi Anak-anak Bisa Meledak?
Ada berbagai perilaku ledakan emosi, mulai dari menangis dan melolong hingga menjerit, menendang, memukul, maupun menahan nafas kuat-kuat. Ledakan emosi biasanya terjadi dari usia 1 hingga 3 tahun, baik anak laki maupun perempuan. Temperamen anak-anak berubah secara dramatis, jadi beberapa anak mungkin mengalami ledakan emosi secara berkala, sedangkan yang lain mungkin hanya jarang-jarang saja.
Bahkan anak kecil yang baik sekalipun terkadang bisa mengalami ledakan emosi yang sangat kuat. Ini adalah bagian pengembangan diri yang normal dan tidaklah perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Perlu disadari bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan kontrol diri seperti orang dewasa.

Bayangkan bagaimana rasanya saat Anda butuh untuk mengoperasikan sebuah DVD Player dan tidak bisa melakukannya, tidak peduli betapa kerasnya Anda mencoba. Hal ini disebabkan karena Anda tidak mengerti cara melakukannya. Sangatlah membuat frustasi, bukan? Beberapa dari kita mungkin mengomel, melemparkan buku petunjuk pengoperasian, membanting pintu dan lain sebagainya. Itu adalah luapan emosi versi orang dewasa. Nah anak-anak juga mencoba menguasai dunia mereka, dan di saat mereka tidak bisa melakukan sesuatu, sering kali mereka menggunakan satu cara untuk melampiaskan kejengkelan mereka, yaitu meluapkan emosinya.
Beberapa penyebab dasar dari ledakan emosi yang sering dikenali adalah kebutuhan akan perhatian, lelah, lapar, ataupun perasaan tidak nyaman. Sebagai tambahan, ledakan emosi ini adalah akibat frustasinya si anak karena mereka tidak bisa mendapatkan sesuatu (misalnya suatu benda ataupun perhatian orangtuanya) untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Frustasi merupakan suatu bagian dari hidup mereka yang tidak bisa dihindarkan sembari mereka mempelajari bagaimana manusia, benda, dan tubuh mereka bekerja.

Ledakan emosi juga umum dialami saat usia 2 tahun, saat di mana anak-anak belajar menguasai bahasa. Mereka mengerti akan sesuatu namun susah untuk mengatakannya karena keterbatasan bahasa. Bayangkan bila kita tidak bisa mengkomunikasikan kebutuhan kita kepada seseorang; ini adalah pengalaman buruk yang bisa memicu emosi. Dengan meningkatnya kemampuan berkomunikasi, ledakan emosi ini cenderung menurun.
Penyebab lain dari ledakan emosi terjadi saat anak harus melewati suatu masa dimana kebutuhan akan otonomi meningkat. Di masa ini mereka ingin mendapatkan suatu kebebasan dan pengendalian. Sebenarnya hal ini adalah kondisi yang bagus untuk memupuk semangat berjuang, di mana seringkali anak berpikir “aku bisa mengerjakannya sendiri” atau “aku mau itu, berikan itu padaku”. Nah, saat mereka merasa bahwa mereka tidak bisa mengerjakan atau tidak bisa memperoleh apa yang mereka inginkan, maka ledakan emosi bisa terpicu.

Menghindari Ledakan Emosi Kemarahan
Cara terbaik untuk mengatasi ledakan emosi adalah dengan menghindarinya bilamana memungkinkan. Berikut ini adalah strategi yang bisa membantu:
  • Pastikan anak Anda tidak bersandiwara hanya karena dia tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Bagi seorang anak, perhatian negatif (reaksi orangtua terhadap ledakan emosi kemarahannya) adalah lebih baik ketimbang tidak ada perhatian sama sekali. Cobalah untuk membiasakan diri mengenali perilaku baik sang anak dan memberikan penghargaan atas perilaku baiknya.
  • Cobalah memberi anak-anak tersebut suatu kontrol atas hal-hal kecil yang mereka sanggup lakukan. Hal ini akan memenuhi kebutuhan mereka akan kebebasan dan mengurangi ledakan emosi kemarahan secara drastis. Tawarkan pilihan kecil seperti “Apakah kamu mau jus jeruk atau jus apel?” atau “Apakah kamu mau menggosok gigi sebelum atau setelah mandi?”. Dengan cara ini, Anda tidak bertanya “Apakah kamu mau menggosok gigi sekarang?” yang tanpa bisa dihindari akan dijawab oleh sang anak dengan “Tidak”.
  • Simpan dengan baik benda-benda berbahaya agar di luar jangkauan anak-anak, jauhkan dari pandangan mata ataupun jangkauan tangan mereka; sehingga mereka tidak perlu berjuang begitu keras untuk mendapatkan benda-benda tersebut. Tentu saja hal ini tidaklah mungkin bisa dilakukan setiap waktu, khususnya di luar rumah di mana lingkungan tersebut tidaklah bisa dikendalikan.
  • Alihkan perhatian sang anak. Manfaatkan rentang perhatian anak yang pendek dengan menawarkan barang pengganti ataupun memulai aktivitas baru untuk menggantikan aktivitas yang berpotensi membuat frustasi ataupun yang dilarang. Atau bisa juga dengan mengganti suasana dengan membawa mereka ke ruang lain.
  • Tatkala anak-anak bermain atau berusaha menguasai suatu tugas baru, aturlah agar mereka bisa mengalami keberhasilan setahap demi setahap. Berikan mainan yang sesuai dengan umurnya. Juga mulailah dengan sesuatu yang sederhana dan mudah sebelum melanjutkannya dengan tugas yang lebih menantang.
  • Pertimbangkan permintaan anak dengan seksama. Apakah permintaan ini terlalu berlebihan atau tidak? Pertimbangkan dengan baik, penuhi permintaan tersebut bilamana tidak berlebihan.
  • Ketahui limit/batasan anak Anda. Jika Anda tahu anak sedang lelah, maka tidaklah tepat untuk mengajaknya berbelanja ataupun memintanya melakukan satu tugas lagi.
Jika anak masih mengulangi aktivitas yang dilarang padahal membahayakan, peganglah sang anak dengan kuat untuk beberapa menit. Tatap matanya dan katakan Anda tidak mengijinkan tindakannya. Tetaplah konsisten. Anak-anak harus mengerti bahwa Anda serius untuk masalah yang berkaitan dengan keamanan.

Taktik Menghadapi Ledakan Emosi Kemarahan
Hal terpenting yang harus diingat tatkala berhadapan dengan seorang anak yang sedang marah, tidak peduli apa sebabnya, adalah tetap bersikap tenang. Jangan memperparah keadaan dengan rasa frustasi Anda. Anak-anak bisa merasakan saat orangtua mereka menjadi frustasi. Hal ini bisa membuat frustasi mereka menjadi lebih parah. Tarik nafas dalam-dalam dan cobalah untuk berpikir lebih jernih. Anak Anda meniru teladan Anda. Memukul anak tidaklah membantu dalam situasi seperti ini; karena anak akan menangkap pesan bahwa kita bisa menyelesaikan masalah dengan pukulan. Milikilah kontrol diri yang cukup.
Pertama, coba pahami apa yang sedang terjadi. Ledakan emosi kemarahan harus ditangani secara tersendiri tergantung dari penyebabnya. Cobalah untuk mengerti penyebabnya. Misalnya ketika anak Anda sedang mengalami kekecewaan besar, Anda perlu berempati dengannya sebelum mengarahkan tindakan dan sikap selanjutnya.

Situasinya akan berbeda saat menghadapi ledakan emosi dari seorang anak yang mengalami penolakan. Sadarilah bahwa anak kecil belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu alasan dengan baik, sehingga Anda mungkin tidak menerima penjelasan yang memuaskan. Mengabaikan ledakan amarah mereka adalah satu cara untuk menangani hal ini dengan catatan ledakan emosi ini tidak membahayakan anak Anda ataupun orang lain. Lanjutkan saja aktivitas Anda setelah memberikan perhatian sesaat, biarkan ia berkutat sendiri dengan perasaannya namun masih dalam jarak pandangan Anda. Jangan tinggalkan anak kecil Anda sendirian, bila tidak, dia akan merasa ditinggalkan dengan emosi yang masih belum terkontrol. Ingat cara ini tidak selalu berhasil namun untuk kasus ringan bisa jadi sangat membantu.

Nah ceritanya akan sangat berbeda jika anak-anak yang sedang marah tersebut berada dalam bahaya karena menyakiti dirinya sendiri atau orang lain. Sebaiknya anak ini dibawa ke tempat yang tenang dan aman untuk ditenangkan. Hal ini juga berlaku untuk ledakan emosi yang terjadi di tempat umum.
Anak-anak yang lebih besar cenderung memanfaatkan ledakan emosi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apalagi jika mereka telah mengetahui taktik ini berhasil sebelumnya. Jika anak-anak tersebut telah bersekolah, adalah pantas untuk meminta mereka ke kamar mereka untuk menenangkan diri dan memikirkan perilakunya. Ketimbang menggunakan batasan waktu tertentu, orangtua bisa meminta mereka tetap berada di kamar hingga mereka telah bisa mengendalikan diri. Ini adalah pilihan untuk penguasaan di mana anak belajar untuk mengendalikan diri dengan tindakan mereka.
Setelah Badai Kemarahan
Terkadang seorang anak mengalami kesulitan menghentikan kemarahannya. Dalam kasus ini, kita bisa bantu mereka dengan berkata “Saya akan membantu menenangkanmu sekarang”. Tapi jangan beri penghargaan kepada anak Anda setelah kemarahannya dengan mengalah. Hal ini hanya akan membuktikan kepada anak Anda bahwa ledakan emosi adalah efektif untuk memaksakan kehendaknya. Sebagai gantinya, puji anak Anda atas keberhasilannya mengendalikan diri.
Setelah kemarahan, anak juga menjadi peka ketika mereka mengetahui bahwa mereka tidak lagi berlaku manis. Nah inilah saat yang tepat untuk memeluk mereka dan meyakinkan bahwa mereka tetap dicintai tanpa syarat.

Dikutip dari website : /www.sekolahorangtua.com/

MIZAN DIAN SEMESTA Jogjakarta: KASIH PARSEL BUKU? KENAPA TIDAK?

MIZAN DIAN SEMESTA Jogjakarta: KASIH PARSEL BUKU? KENAPA TIDAK?: "Tags : Parsel, Lebaran, anak, buku, Yogya, Ensiklopedia Bocah Muslim, hadiah ulang tahun, kado anak, hadiah lebaran, hadiah tamat puasa, bel..."

KASIH PARSEL BUKU? KENAPA TIDAK?

Tags : Parsel, Lebaran, anak, buku, Yogya, Ensiklopedia Bocah Muslim, hadiah ulang tahun, kado anak, hadiah lebaran, hadiah tamat puasa, belajar quran, I love My quran, buku untuk balita,